
SERAYUNEWS–Musim yang seharusnya penuh harapan justru berubah jadi mimpi buruk bagi Real Madrid. Tim bertabur bintang itu harus tersingkir dari Liga Champions UEFA usai kalah agregat 4-6 dari Bayern Munich.
Tak hanya di Eropa, performa mereka di La Liga juga jauh dari kata memuaskan. Los Blancos kini tertahan di peringkat kedua, tertinggal 9 poin dari rival abadi mereka, FC Barcelona.
Di atas kertas, Madrid seharusnya jadi tim paling menakutkan. Lini depan diisi nama-nama elite seperti Kylian Mbappé, Vinícius Júnior, dan Rodrygo.
Di lini tengah, mereka punya kombinasi kreativitas dan energi dari Jude Bellingham, Federico Valverde, hingga Aurélien Tchouaméni dan Eduardo Camavinga.
Belum lagi lini belakang yang diperkuat Antonio Rüdiger dan Éder Militão. Namun anehnya, semua kemewahan itu tak berbanding lurus dengan hasil di lapangan.
Masalah Madrid musim ini bukan hanya soal pemain, tapi juga instabilitas di kursi pelatih. Di awal musim, mereka ditangani Xabi Alonso. Namun setelah kalah dari Barcelona di Piala Super Spanyol, ia didepak pada Januari 2026.
Manajemen kemudian menunjuk Álvaro Arbeloa sebagai pelatih interim. Harapannya, sosok yang pernah jadi bagian dari klub bisa meredam ego ruang ganti.
Nyatanya, perubahan itu belum memberi dampak signifikan. Permainan Madrid tetap inkonsisten, bahkan cenderung kehilangan identitas.
Salah satu masalah klasik tim “galacticos” kembali muncul—terlalu banyak pemain bintang, tapi minim keseimbangan. Kombinasi Mbappé, Vinícius, dan Rodrygo memang mematikan di atas kertas, tapi belum tentu efektif jika tidak ada sistem yang jelas.
Koordinasi lini depan kerap terlihat tumpang tindih, sementara lini tengah belum sepenuhnya mampu mengontrol tempo permainan secara konsisten.
Dalam lima laga terakhir La Liga, Real Madrid hanya meraih tiga kemenangan, satu imbang, dan satu kekalahan. Hasil imbang 1-1 melawan Girona di Santiago Bernabéu jadi bukti bahwa mereka belum benar-benar stabil.
Bandingkan dengan Barcelona yang justru tampil solid tanpa kekalahan di periode yang sama.
Jika ingin kembali berjaya, Real Madrid tampaknya harus segera mengambil keputusan besar. Sosok pelatih dengan pengalaman, ketegasan, dan kemampuan mengelola ego pemain jadi kebutuhan mendesak.
Álvaro Arbeloa mungkin punya DNA Madrid, tapi untuk menangani skuad penuh bintang, dibutuhkan lebih dari sekadar kedekatan emosional.
Musim ini bisa jadi tanpa trofi. Dan bagi Real Madrid, itu bukan sekadar kegagalan—tapi sinyal bahwa ada sesuatu yang benar-benar salah di dalam tim.