
SERAYUNEWS – Area rumput Alun-alun Purwokerto kini bisa diakses masyarakat untuk bersantai. Kebijakan ini mulai diberlakukan pada Sabtu (18/04/2026). Namun demikian, masyarakat sebagai pengunjung dan para pedagang kawasan Alun-alun, diminta untuk bersama-sama menjaga keasriannya.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono, menyampaikan bahwa kebijakan ini untuk mewujudkan aspirasi masyarakat. Ketika datang ke alun-alun, mereka ingin bersantai, rekreasi, dan nongkrong. Jadi mengembalikan makna alun-alun sebagai ruang publik bagi masyarakat.
“Ini juga karena aspirasi masyarakat, mulai Sabtu kemarin area rumput Alun-alun sudah bisa diakses,” kata Sadewo, Minggu (19/04/2026).
Namun karena area yang berlantai keramik sangat terbatas, kadang pengunjung bingung untuk duduk. Diaksesnya area rumput setidaknya bisa memberi ruang lebih lega, bagi pengunjung untuk menikmati suasana.
“Tapi, ada tapinya, harus mau bersama-sama menjaga keasrian dan kebersihan. Baik pengunjung maupun para pedagang,” ujarnya.
Sekitar tujuh tahun ke belakang, area rumput Alun-alun tidak diakses masyarakat, dalam arti tidak bisa diinjak dan buat duduk ketika berkunjung ke Alun-alun.
Salah satu alasannya adalah kondisi rumput yang cepat rusak. Padahal anggaran untuk perawatan cukup tinggi.
“Alun-alun bisa diakses kembali oleh warga atas perintah Pak Bupati setelah memperhatikan aspirasi masyarakat, untuk mengakomodasi kebutuhan ruang publik bagi warga,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas, Widodo Sugiri.
Sugiri menjelaskan, area rumput boleh diakses atau diduduki, namun hanya bagi para pengunjung alun-alun. Para pedagang tetap berada di area yang berlantai keramik. Tidak hanya itu, para penjung saat mengakses area rumput juga tidak diijinkan menggunakan tikar, karena itu efeknya mempercepat kerusakan rumput.
“Kami menekankan beberapa larangan, seperti tidak diperbolehkan membawa tikar ke dalam area dan pengunjung wajib menjaga kebersihan,” ujar Sugiri.
Terkait keberadaan pedagang, Sugiri menegaskan bahwa area dalam Alun-alun harus steril. Pihak DLH telah melakukan langkah persuasif dengan menggelar dialog bersama para pedagang pada Sabtu malam.
“Kami sudah berembug dengan para pedagang agar tidak masuk ke area dalam Alun-alun dan mereka menyatakan setuju. Ini demi menjaga kebersihan bersama. Justru dengan dibukanya akses masuk bagi warga, kami optimis omzet pedagang yang berjualan di sekitar area luar akan meningkat karena volume pengunjung bertambah,” kata dia.
Selain aturan kebersihan dan pedagang, Sugiri juga memberikan catatan mengenai pemeliharaan rutin. Masyarakat diminta untuk tidak terkejut jika sewaktu-waktu akses masuk ditutup sementara.
“Saat ini masih tahap uji coba, kita lihat seperti apa beberapa bulan ke depan. Baru kita temukan ritmenya dan tentukan penjadwalan untuk masa perawatan,” kata dia.
Dengan dibukanya kembali Alun-alun, diharapkan pusat kota Purwokerto kembali hidup sebagai ruang interaksi sosial tanpa mengabaikan aspek ketertiban kota.