
SERAYUNEWS – Pemerintah Kabupaten Cilacap melalui Dinas Pertanian mulai menyiapkan berbagai strategi untuk menjaga ketahanan pangan menghadapi ancaman fenomena El Nino pada musim kemarau 2026. Langkah ini dilakukan seiring prakiraan musim kemarau yang diprediksi mulai berlangsung pada Mei mendatang.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Sigit Widayanto, menyanpaikan upaya antisipasi dilakukan sejak dini agar produksi pangan tetap terjaga di tengah potensi penurunan curah hujan.
Sigit menjelaskan, Kabupaten Cilacap memiliki luas baku sawah mencapai 67.031 hektare. Sepanjang 2025, realisasi luas panen padi tercatat mencapai 132.681 hektare dengan produktivitas rata-rata 64,44 kuintal per hektare.
Dari capaian tersebut, produksi padi diperkirakan mencapai 855.042 ton gabah kering giling (GKG). Jika dikonversikan menjadi beras konsumsi, jumlahnya setara 507.438 ton.
“Dengan kebutuhan beras masyarakat Cilacap sekitar 185.583 ton, kita masih memiliki surplus sekitar 321.854 ton,” ujar Sigit, Jumat (3/4/2026).
Sejumlah kecamatan seperti Kedungreja, Gandrungmangu, Kawunganten, Majenang, dan Wanareja menjadi sentra produksi padi utama yang menopang capaian tersebut.
Memasuki 2026, Dinas Pertanian menargetkan luas panen padi meningkat menjadi 136.335 hektare dengan estimasi produksi mencapai 834.712 ton.
Sementara itu, target Luas Tambah Tanam (LTT) padi pada Maret 2026 ditetapkan sebesar 9.342 hektare. Namun hingga 30 Maret, realisasi baru mencapai 6.465 hektare atau sekitar 69,20 persen.
Kondisi ini mendorong pemerintah daerah untuk mempercepat masa tanam di berbagai wilayah. “Percepatan tanam menjadi langkah penting untuk mengejar sisa curah hujan sebelum memasuki puncak kemarau,” jelasnya.
Selain percepatan tanam, strategi lain yang dilakukan adalah mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya air. Berbagai sumber air alternatif diidentifikasi, mulai dari embung, dam parit, sumur dalam, sumur resapan, hingga sistem irigasi perpompaan dan perpipaan.
Pengelolaan jaringan irigasi dari tingkat primer hingga kuarter juga terus diperkuat guna memastikan distribusi air tetap berjalan optimal.
Sigit menyebut, hingga saat ini belum ada rencana pengeringan saluran irigasi di Daerah Irigasi (DI) Serayu maupun DI Menganti. Hal ini menjadi kabar baik bagi petani karena suplai air diperkirakan masih relatif aman dalam waktu dekat.
Dalam menghadapi potensi kekeringan akibat El Nino, petani juga didorong untuk menyesuaikan pola tanam sesuai kondisi iklim. Selain itu, penggunaan varietas padi tahan kekeringan seperti Inpari 11, 18, 19, 20, hingga Inpari 46 mulai disosialisasikan.
Tak hanya itu, varietas berumur genjah seperti Inpari 6, 12, dan Cakrabuana juga dianjurkan guna mempercepat masa panen dan meminimalkan risiko gagal panen.
“Selain percepatan tanam, kami juga memastikan kesiapan alat dan mesin pertanian serta pengendalian organisme pengganggu tanaman,” tambahnya.
Pemerintah daerah juga terus memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya mendorong percepatan tanam sekaligus menjaga ketahanan pangan berkelanjutan di Kabupaten Cilacap.
Dengan berbagai strategi tersebut, Cilacap diharapkan mampu menghadapi dampak El Nino tanpa mengganggu stabilitas produksi pangan, sekaligus mempertahankan status sebagai daerah surplus beras di Jawa Tengah.