
SERAYUNEWS – Multazam menjadi salah satu titik yang paling diidamkan jemaah saat berada di Masjidil Haram.
Kemudian, banyak umat Muslim memanjatkan doa dengan penuh harap karena yakin ini adalah tempat yang istimewa untuk bermunajat.
Namun, tingginya antusiasme jemaah juga membuat akses menuju Multazam tidak selalu mudah.
Keinginan untuk berdoa di lokasi tersebut kerap diiringi dengan kondisi yang sangat padat, terutama pada musim haji dan umrah.
Oleh karena itu, pemahaman mengenai tata cara serta adab berdoa di Multazam menjadi penting agar ibadah tetap berjalan dengan tertib dan khusyuk.
Multazam merupakan area yang berada di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah, dengan panjang kurang lebih dua meter.
Secara bahasa, istilah Multazam berasal dari kata iltizam yang berarti melekat atau menempel erat.
Di lokasi ini, jemaah biasanya mendekatkan diri ke dinding Ka’bah dengan cara menempelkan bagian tubuh seperti dada, pipi, atau tangan sambil memanjatkan doa.
Posisi tersebut menjadi simbol kedekatan seorang hamba dengan Sang Pencipta dalam suasana penuh kerendahan hati.
Letaknya yang berada di sisi timur Ka’bah membuat Multazam selalu dilewati jemaah saat melakukan tawaf.
Meski demikian, tidak semua jemaah memiliki kesempatan untuk berhenti dan berdoa langsung di area tersebut karena kepadatan yang tinggi.
Multazam merupakan salah satu tempat yang mustajab untuk berdoa. Keyakinan ini membuat banyak jemaah berusaha mendekat ke area tersebut untuk menyampaikan berbagai permohonan.
Doa pun beragam, mulai dari permohonan ampunan, harapan akan kebaikan hidup di dunia dan akhirat, hingga doa agar dapat kembali ke Tanah Suci di masa mendatang.
Tidak sedikit pula jemaah yang memanfaatkan momen ini untuk mendoakan keluarga serta umat Muslim secara keseluruhan.
Meski demikian, esensi dari doa tidak semata terletak pada lokasi, melainkan pada keikhlasan dan kesungguhan hati dalam memohon.
Dalam praktiknya, terdapat sejumlah adab saat berdoa di Multazam agar ibadah tetap sesuai dengan nilai-nilai dalam Islam.
Pertama, jemaah sebaiknya meluruskan niat dan membersihkan hati sebelum berdoa. Keikhlasan menjadi kunci utama agar doa memiliki makna yang mendalam.
Kedua, jemaah dapat menghadap ke arah Ka’bah dan, jika memungkinkan, menempelkan bagian tubuh seperti dada atau pipi ke dinding Ka’bah. Namun, hal ini tidak bersifat wajib dan harus sesuai dengan kondisi di lapangan.
Ketiga, doa bisa dalam bahasa apa pun. Penggunaan bahasa yang dimengerti justru dapat membantu menghadirkan kekhusyukan dalam berdoa.
Selain itu, jemaah sebaiknya tidak memaksakan diri, apalagi sampai mendorong atau menyakiti orang lain demi mencapai Multazam.
Jika kondisi terlalu padat, berdoa dari jarak yang lebih aman tetap memiliki nilai ibadah yang sama selama penuh keyakinan.
Kondisi padat di sekitar Multazam menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah. Banyaknya umat dari berbagai negara yang memiliki tujuan serupa membuat area ini hampir selalu penuh kerumunan.
Situasi tersebut menuntut kesabaran serta kesadaran kolektif untuk saling menjaga. Petugas di sekitar Masjidil Haram juga biasanya mengatur arus jemaah agar tidak terjadi penumpukan yang berlebihan.
Dalam kondisi tertentu, jemaah sebaiknya memilih waktu yang lebih lengang atau cukup berdoa dari kejauhan guna menghindari risiko keselamatan.***