
SERAYUNEWS – Di tengah tantangan regenerasi petani dan urgensi ketahanan pangan nasional, sebuah terobosan nyata muncul dari lingkungan pesantren di Kabupaten Banyumas. Para santri kini tidak hanya mendalami kitab suci, tetapi juga turun langsung ke ladang, membuktikan bahwa pesantren mampu menjadi pilar ekonomi mandiri melalui sektor pertanian.
Keberhasilan ini tercermin dalam implementasi program Infratani (Integrated Farming with Technology Information and Society) yang mulai membuahkan hasil signifikan. Salah satu motor penggeraknya adalah Pondok Pesantren Al Ijtihad yang berlokasi di Desa Sirau, Kecamatan Kemranjen.
Di sini, sistem pertanian dan peternakan terintegrasi dikembangkan bukan hanya sebagai penyokong ekonomi internal, melainkan juga sebagai laboratorium hidup bagi para santri.
Kepala Ponpes Al Ijtihad Kemranjen, Tukiran Yatmo Suwito, menegaskan bahwa diversifikasi usaha di pesantrennya mencakup berbagai sektor, mulai dari persawahan padi, budidaya ikan, peternakan domba, hingga komoditas unggulan berupa cabai.
“Semua ini dalam rangka mendukung kemandirian ekonomi pondok pesantren. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Bank Indonesia dan Dinas Pertanian yang telah membantu pengembangan ini,” katanya, Kamis (16/4/2026).
Saat ini, sekitar 4.000 batang pohon cabai berdiri tegak di atas lahan seluas 2.000 meter persegi. Produktivitasnya pun cukup impresif; setiap lima hari, lahan ini mampu menghasilkan sekitar 1 kuintal cabai segar.
“Dalam satu siklus, panen bisa sampai 25 kali, sehingga totalnya sekitar 25 kuintal. Sebanyak 95 persen hasil panen kami jual ke pasar karena kebutuhan internal tidak terlalu besar,” jelas Tukiran.
Nilai ekonomis dari komoditas ini pun cukup menjanjikan. Dengan harga jual terakhir di kisaran Rp53 ribu per kilogram, bahkan sempat menembus angka Rp97 ribu per kilogram saat momentum Lebaran, pertanian cabai menjadi sumber pendapatan yang sangat potensial bagi pesantren.
Lebih dari sekadar hitungan angka, pengelolaan lahan ini menjadi media pendidikan praktis. Saat ini, dua santri ditugaskan secara intensif untuk mengelola kebun guna mendapatkan pengalaman lapangan yang konkret.
“Santri selalu kami libatkan agar mereka memiliki keterampilan dan pengalaman langsung di bidang pertanian,” kata Tukiran.
Langkah ini mendapat apresiasi penuh dari Bank Indonesia (BI) Purwokerto. Kepala Perwakilan BI Purwokerto, Christoveny, menjelaskan bahwa Program Infratani didesain sebagai model pertanian masa depan yang menggabungkan aspek teknologi, informasi, dan pemberdayaan berbasis komunitas.
“Program ini mengembangkan komoditas seperti cabai, beras, dan bawang merah. Tujuannya tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mendukung swasembada pangan dan pengendalian inflasi,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Ponpes Al Ijtihad, bersama Ponpes Darul ‘Ulum dan Nuururrohman, kini menjadi prototipe komunitas pertanian yang produktif dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas, Arif Sukmo Buwono, turut menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, otoritas moneter, dan lembaga pendidikan agama dalam menjaga ketahanan pangan lokal.
“Produksi cabai harus terus digenjot untuk mencapai swasembada pangan sekaligus menjaga stabilitas harga. Dukungan dari BI melalui Program Infratani sangat membantu,” katanya.
Menariknya, program ini juga beririsan dengan inisiatif Taruna Karya Mandiri (TAKARA MERDAYA) yang digagas pemerintah untuk merangkul Generasi Z agar mau terjun ke sektor pertanian, khususnya pada budidaya cabai rawit merah.
“Ke depan, kami akan terus menyinergikan berbagai program untuk meningkatkan produksi sekaligus membangun regenerasi petani muda,” kata Arif.