
SERAYUNEWS – Kabupaten Banyumas kembali menelurkan talenta muda berprestasi. Nathasya Berliana Putri (18), alumnus SMA Negeri 1 Sumpiuh, baru saja mengukir pencapaian gemilang dengan diterima di dua perguruan tinggi bergengsi.
Masing-masing yakni Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur SNBP dan Institut Teknologi PLN (ITPLN). Di balik keberhasilan ini, terukir kisah tentang dedikasi, empati, dan inspirasi unik yang datang dari layar drama.
Lahir di Banyumas, 8 November 2007, Nathasya tumbuh di Desa Prembun, Kecamatan Tambak. Meski tergolong jauh dari pusat kota Purwokerto, mimpinya melambung tinggi.
Kejutan besar menghampiri hidupnya saat ia dinyatakan lolos di ITPLN, sebuah kampus dengan prospek ikatan kerja yang menjanjikan di sektor energi. Namun, takdir memberinya pilihan sulit ketika hasil SNBP mengumumkan namanya juga diterima di UGM.
“Awalnya saya sudah diikat di ITPLN. Tapi waktu pengumuman SNBP, ternyata saya keterima di UGM,” ujarnya dengan nada masih tak percaya, Selasa (21/4/2026).
Di persimpangan jalan tersebut, Nathasya mengambil langkah berani. Alih-alih memilih kepastian karier di ITPLN, ia justru memantapkan hati untuk berkuliah di UGM. Pertimbangannya pun bukan sekadar ego pribadi, melainkan bentuk tanggung jawab sosial terhadap almamaternya. Gadis belia itu ingin membawa nama harus sekolahnya.
“Saya takut kalau tidak diambil, sekolah bisa kena blacklist. Kasihan adik tingkat nanti jadi tidak punya peluang,” ujarnya.
Keputusan matang ini menjadi bukti kedewasaan Nathasya. Ia tak hanya mengejar ilmu, tetapi juga menjaga pintu kesempatan bagi generasi setelahnya.
Menariknya, minat Nathasya pada program Teknologi Rekayasa Elektro ternyata berawal dari kebiasaan sederhana, menonton drama Korea. Rasa ingin tahunya terhadap cara kerja teknologi bahasa muncul dari sana.
“Kalau nonton drakor kan pakai subtitle. Saya kepikiran, bisa nggak ya suatu saat ngerti tanpa subtitle,” katanya sambil tersenyum.
Di balik kesuksesan sang putri, ada tangan dingin kedua orang tuanya, Andriawan (43) dan Sri Yuantini (48). Sang ibu, Sri, tak mampu menyembunyikan rasa harunya saat menceritakan perjuangan sang buah hati yang sejak SD selalu menjadi juara kelas.
“Sebagai orang tua, saya trenyuh dan bangga. Dari awal proses belajar sampai diterima di perguruan tinggi, kami selalu support,” ungkap Sri Yuantini.
Kedisiplinan yang tinggi menjadi kunci pembentukan karakter Nathasya. Sri mengaku menerapkan pola asuh yang tegas agar putrinya tumbuh menjadi pribadi yang tangguh.
“Didikan saya semi militer, tidak pernah memanjakan anak supaya mandiri. Dari kecil sudah terlihat ada sesuatu dalam dirinya,” katanya.
Sesuai namanya, “Berliana”, Sri berharap putrinya bisa menjadi sosok yang kuat dan bersinar di mana pun ia berada. Meskipun melepaskan peluang ikatan kerja di ITPLN, keluarga meyakini bahwa jalan di UGM akan membukakan pintu kesuksesan yang tak kalah luas.
“Menurut saya lulusan UGM insya Allah akan lebih mudah, banyak perusahaan bonafit yang kerja sama. Tapi apapun pilihan anak, saya tetap dukung,” katanya.
Kini, langkah Nathasya menuju masa depan baru saja dimulai. Dari sudut Desa Prembun, ia membuktikan bahwa dengan kerja keras dan karakter yang kuat, mimpi besar bisa lahir dan tumbuh dari mana saja.