
SERAYUNEWS – Upaya memperkuat kedaulatan pangan nasional terus dipercepat. Kali ini, Kabupaten Banyumas menjadi pusat kolaborasi lintas sektoral yang mempertemukan petani, korporasi, BUMN, dan pemerintah dalam satu gerakan strategis berbasis desa.
Kegiatan bertajuk “Petani Milenial Bersatu, Banyumas Pasti Maju” digelar di Gedung Workshop BLKK Mektan Banggakerti Nusantara, Desa Kebanggan, Kecamatan Sumbang, Sabtu (4/4/2026).
Forum ini menghadirkan perwakilan petani dari lima desa, yaitu Kebanggan, Sumbang, Datar, Kawung Carang, dan Tambaksogra. Dukungan sektor industri juga terlihat kuat dengan kehadiran PT Pupuk Kaltim, Nufarm asal Australia, serta Aura Seed Indonesia.
Kolaborasi ini mempertemukan seluruh elemen penting dalam rantai pertanian, mulai dari produksi hingga distribusi.
Pemerintah Kabupaten Banyumas menunjukkan komitmennya dengan melibatkan berbagai instansi strategis, seperti Dinas Pertanian, Dinas Perikanan dan Industri, Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan, serta Dinas Ketenagakerjaan dan Industri.
Keterlibatan multi-pihak ini menegaskan bahwa pembangunan sektor pertanian tidak bisa berjalan sendiri. Sinergi antara regulator, pelaku usaha, dan petani menjadi fondasi utama dalam menciptakan sistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.
Pembina Insan Aji Nusantara, Sisno Sj, menilai forum ini sebagai langkah konkret dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Ia menegaskan bahwa petani kini semakin mudah mengakses teknologi, informasi, serta sarana produksi pertanian seperti benih unggul dan pupuk efisien.
Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada kesejahteraan petani. Inisiatif tersebut sejalan dengan program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), yang membutuhkan pasokan bahan pangan berkualitas secara berkelanjutan.
Pembangunan pertanian dalam forum ini mengacu pada tiga pilar utama:
Ketiga pilar ini menjadi fondasi dalam membangun kemandirian pangan nasional.
Selain aspek produksi, forum ini juga menyoroti pentingnya Koperasi Desa Merah Putih sebagai solusi pembiayaan bagi petani. Skema ini diharapkan mampu memperkuat permodalan di tingkat desa secara berkelanjutan.
Di sisi lain, regenerasi petani menjadi perhatian utama. Generasi muda didorong untuk terlibat aktif melalui penerapan teknologi pertanian presisi agar mampu bersaing di pasar global.
“Transformasi ini juga mencerminkan perubahan paradigma, di mana semangat kepemudaan dan nilai-nilai kesatria kini diarahkan pada kontribusi nyata di sektor pertanian sebagai garda terdepan ketahanan pangan,” kata dia.
Seluruh pihak berharap kolaborasi ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Gerakan ini ditargetkan berkembang menjadi aksi nyata yang berakar dari desa dan berdampak luas secara nasional.
Optimisme besar pun muncul bahwa sinergi ini mampu melahirkan sistem pertanian modern yang mandiri dan berdaya saing.
“Ini bukan sekadar pertemuan, tetapi awal dari gerakan bersama untuk masa depan pangan Indonesia,” kata dia.