
SERAYUNEWS – Koordinator LSM Seroja, Ekanto Wahyuning Santoso, meminta seluruh pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cilacap bersikap kooperatif memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ekanto mendorong para pejabat untuk membuka semua informasi yang mereka ketahui guna mempercepat penyelesaian kasus yang tengah bergulir.
Pemeriksaan maraton ini kabarnya dijadwalkan berlangsung sejak Senin hingga Kamis. Sejumlah pejabat yang sebelumnya sempat dimintai keterangan saat proses awal di kantor Samsat dan Polresta Banyumas, Hingga ke Gedung Merah Putih, kini kembali dipanggil untuk pendalaman materi.
Ekanto menekankan bahwa keterbukaan saksi sangat krusial agar kasus dugaan pemerasan yang menyeret nama Bupati serta Sekda Cilacap ini tidak menjadi beban bagi daerah. Ia berharap tidak ada keterangan yang disembunyikan dari penyidik.
“Harapan kami kepada seluruh pejabat yang diundang untuk terbuka saja apa-apa yang diketahui untuk bisa disampaikan kepada penyidik KPK,” ujar Ekanto, Selasa (14/4/2026).
Menurutnya, jika proses hukum ini menggantung tanpa kepastian, maka masyarakat Cilacap-lah yang akan merasakan dampak kerugiannya. “Sehingga permasalahan ini bisa cepat selesai, tidak menggantung, karena menggantung juga pasti akan merugikan masyarakat Cilacap,” tegasnya.
Selain mendorong transparansi, LSM Seroja juga menyoroti kebiasaan lembaga antirasuah dalam menentukan status hukum seseorang di akhir pekan. Ekanto berharap proses pemeriksaan pekan ini berjalan lancar tanpa harus diakhiri dengan peristiwa yang ia sebut sebagai “Jumat Sakral”.
“Diharapkan tidak ada ‘Jumat Sakral’ ya. Siapa pun tahu arti kata ‘Jumat Sakral’, terutama di KPK, karena tradisi KPK adalah hari Jumat,” ungkap Ekanto.
Ia menilai suasana di internal Pemkab Cilacap saat ini sudah cukup hangat. Adanya kejutan di hari Jumat dikhawatirkan akan semakin memperkeruh situasi di lingkungan pemerintahan maupun masyarakat luas.
Melalui momentum pemeriksaan ini, Ekanto berharap ada hikmah yang bisa diambil oleh seluruh pejabat di Cilacap agar lebih berhati-hati dalam mengemban amanah. Kasus ini diharapkan menjadi pengingat keras agar praktik serupa tidak terulang kembali di masa depan.
“Saya pikir ini juga menjadi pembelajaran kita semua untuk segala sesuatunya harus berhati-hati, sehingga hal-hal seperti ini tidak akan terulang lagi,” pungkasnya.