
SERAYUNEWS – Kemunculan benda bercahaya yang melintas di langit wilayah Lampung dan sebagian Banten pada Sabtu malam (4/4/2026) sempat menimbulkan kehebohan di tengah masyarakat.
Banyak warga yang menyaksikan fenomena tersebut secara langsung dan membagikan rekamannya di media sosial. Berbagai spekulasi pun bermunculan, mulai dari dugaan meteor, komet, hingga benda berbahaya seperti rudal.
Namun, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan bahwa objek tersebut bukanlah benda langit alami maupun ancaman militer. Fenomena itu dipastikan sebagai sampah antariksa berupa sisa badan roket yang terbakar saat memasuki atmosfer Bumi.
Peneliti ahli utama di Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa hasil analisis terbaru menunjukkan objek tersebut merupakan bagian dari roket milik China, Long March CZ-3B. Informasi ini diperoleh dari data pelacakan internasional serta analisis lintasan orbit.
Menurutnya, sisa roket tersebut melintas dari arah India menuju Samudra Hindia, tepatnya di sekitar wilayah pantai barat Sumatera.
Saat memasuki lapisan atmosfer yang lebih padat, benda tersebut mengalami gesekan hebat yang menyebabkan suhu meningkat drastis hingga akhirnya terbakar dan terpecah.
Thomas juga menyebutkan bahwa pada sekitar pukul 19.56 WIB, ketinggian objek telah turun hingga di bawah 120 kilometer.
Pada titik tersebut, proses pembakaran semakin intens hingga benda terlihat menyala terang dari permukaan Bumi.
Fenomena ini cukup mencolok karena berlangsung selama lebih dari 30 detik dan memancarkan cahaya terang yang tidak biasa.
Sejumlah warga di wilayah Lampung Selatan, Pesawaran, hingga Lampung Timur melaporkan melihat benda tersebut melintas di langit malam.
Sebagian warga mengaku terkejut karena objek tersebut tampak seperti bola api yang bergerak cepat dengan jejak cahaya panjang. Tidak sedikit pula yang menduga bahwa benda tersebut adalah meteor atau bahkan komet.
Kekhawatiran juga sempat muncul di kalangan masyarakat yang mengira objek tersebut berkaitan dengan aktivitas militer, seperti roket atau rudal. Namun, spekulasi tersebut akhirnya terbantahkan setelah adanya penjelasan resmi dari pihak berwenang.
Kepala Pusat Observatorium Astronomi Itera Lampung (OAIL), Annisa Novia Indra Putri, turut memberikan klarifikasi terkait fenomena tersebut. Ia menegaskan bahwa objek yang terlihat di langit bukanlah meteor maupun komet.
Menurut Annisa, karakteristik cahaya dan durasi kemunculan objek lebih sesuai dengan fenomena re-entry atau masuknya kembali benda buatan manusia ke atmosfer Bumi.
Dalam proses ini, material roket akan terbakar akibat gesekan dengan udara, sehingga menghasilkan cahaya terang yang dapat terlihat dari permukaan.
Ia menambahkan bahwa kejadian seperti ini bukan pertama kali terjadi dan umumnya tidak membahayakan karena sebagian besar material akan habis terbakar sebelum mencapai permukaan Bumi.
Kemunculan sampah antariksa yang terbakar di atmosfer sebenarnya merupakan fenomena yang cukup umum dalam aktivitas luar angkasa. Setiap peluncuran roket menyisakan bagian-bagian yang pada akhirnya akan kembali ke Bumi.
Meski demikian, penampakan visualnya yang dramatis sering kali memicu kekhawatiran di masyarakat, terutama bagi mereka yang belum familiar dengan fenomena tersebut.
Kejadian di langit Lampung dan Banten ini menjadi pengingat pentingnya literasi sains di tengah masyarakat. Informasi yang akurat dan cepat dari lembaga resmi seperti BRIN membantu meredam spekulasi yang berpotensi menimbulkan kepanikan.
Dengan adanya penjelasan ilmiah, masyarakat dapat lebih memahami fenomena serupa di masa mendatang. Benda bercahaya yang terlihat bukanlah ancaman, melainkan bagian dari aktivitas manusia di luar angkasa yang kembali ke atmosfer Bumi secara alami.***