
SERAYUNEWS – Sebanyak 10.984 warga Kabupaten Cilacap berhasil masuk ke dunia kerja sepanjang tahun 2025. Dari jumlah tersebut, perempuan tercatat menjadi kelompok yang paling dominan dalam serapan tenaga kerja.
Berdasarkan data Dinas Ketenagakerjaan dan Perindustrian Kabupaten Cilacap, total pencari kerja yang tercatat selama 2025 mencapai 17.436 orang. Dari angka itu, sebanyak 10.144 merupakan perempuan, sedangkan laki-laki berjumlah 7.292 orang.
Tingginya jumlah pencari kerja perempuan ini sejalan dengan ketersediaan lowongan kerja yang juga lebih banyak menyasar tenaga kerja perempuan. Sepanjang tahun, terdapat 10.984 lowongan kerja yang tersedia, dengan rincian 7.132 posisi untuk perempuan dan 3.852 untuk laki-laki.
Jumlah tersebut sekaligus mencerminkan realisasi penempatan tenaga kerja selama 2025, di mana perempuan kembali mendominasi dengan 7.132 orang, sementara laki-laki sebanyak 3.852 orang.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Perindustrian Kabupaten Cilacap, Farid Rijanto, menyampaikan tren dominasi perempuan terlihat jelas baik dari sisi jumlah pencari kerja maupun penempatan tenaga kerja.
“Partisipasi perempuan dalam dunia kerja cukup tinggi. Ini menjadi perhatian kami untuk memastikan perlindungan serta kualitas pekerjaan yang mereka dapatkan,” ujarnya.
Jika ditinjau dari jenis penempatan, mayoritas tenaga kerja Cilacap terserap melalui skema Antar Kerja Antar Negara (AKAN). Sepanjang 2025, tercatat sebanyak 7.043 orang bekerja ke luar negeri, dengan rincian 5.092 perempuan dan 1.951 laki-laki.
Sementara itu, penempatan melalui skema Antar Kerja Lokal (AKL) mencapai 3.941 orang, terdiri dari 2.040 perempuan dan 1.901 laki-laki. Data ini menunjukkan bahwa peluang kerja di luar negeri masih menjadi pilihan utama, terutama bagi tenaga kerja perempuan.
Puncak penyerapan tenaga kerja terjadi pada Desember 2025, dengan total 3.013 orang berhasil ditempatkan dalam satu bulan. Angka ini menjadi capaian tertinggi sepanjang tahun.
Farid menyebut, capaian penyerapan tenaga kerja ini berdampak pada menurunnya tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Cilacap yang kini berada di angka 7,40 persen pada 2025.
Meski demikian, pemerintah daerah masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti menurunnya tingkat partisipasi angkatan kerja serta tingginya dominasi sektor informal.
“Kami tidak hanya fokus pada jumlah penempatan, tetapi juga kualitas pekerjaan dan keberlanjutan lapangan kerja yang tersedia,” tegasnya.
Dengan tren yang terus berlanjut, perempuan diperkirakan tetap menjadi motor utama dalam penyerapan tenaga kerja di Cilacap.
Pemerintah daerah pun didorong untuk terus meningkatkan perlindungan, keterampilan, serta akses pekerjaan yang layak bagi tenaga kerja perempuan agar kontribusinya semakin optimal dalam mendukung perekonomian daerah.