
SERAYUNEWS – Setiap menjelang Iduladha, muncul pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai perlu tidaknya berpuasa sebelum melaksanakan salat Id.
Hal ini biasanya terpicu oleh kebiasaan sebagian umat Islam yang tidak makan sejak pagi hari sebelum mengikuti salat Iduladha, sehingga dianggap sebagai bentuk puasa sunah.
Dalam ajaran Islam, para ulama telah sepakat bahwa berpuasa pada hari raya, termasuk Idul Adha, hukumnya tidak boleh. Ketentuan ini berlaku umum dan menjadi bagian dari kesepakatan para ahli fikih.
Dengan demikian, tidak ada kewajiban maupun anjuran untuk berpuasa sebelum pelaksanaan salat Iduladha pada hari tersebut. Justru, jika seseorang tetap berpuasa pada hari raya, hal itu bertentangan dengan aturan dalam syariat Islam.
Meskipun ada larangan puasa, terdapat anjuran bagi umat Islam untuk tidak makan terlebih dahulu sebelum melaksanakan salat Iduladha.
Anjuran ini berasal dari kebiasaan Nabi Muhammad saw. yang menunda makan hingga selesai melaksanakan salat, kemudian beliau mengonsumsi makanan dari hasil hewan kurban.
Praktik ini bukanlah puasa. Menahan makan hanya berlangsung dalam waktu singkat, yaitu sejak pagi hingga selesai salat Id, dan tidak beserta niat puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Dalam pelaksanaannya, terdapat perbedaan pandangan di antara para ulama terkait anjuran menahan makan sebelum salat Iduladha.
Sebagian ulama berpendapat bahwa anjuran ini berlaku bagi seluruh umat Islam yang akan melaksanakan salat Id, tanpa memandang apakah mereka berkurban atau tidak.
Di sisi lain, ada juga ulama yang berpendapat bahwa anjuran tersebut lebih ditujukan kepada orang yang akan melaksanakan ibadah kurban.
Sementara itu, bagi yang tidak berkurban, tidak ada penekanan khusus untuk menahan makan sebelum salat.
Perbedaan pendapat ini menunjukkan bahwa ajaran Islam memberikan ruang fleksibilitas dalam praktik ibadah, selama tetap berlandaskan pada dalil yang sahih.
Anjuran untuk tidak makan sebelum salat Iduladha memiliki makna yang cukup dalam. Salah satu tujuannya adalah agar umat Islam dapat langsung menikmati hidangan dari hasil kurban setelah pelaksanaan salat.
Selain itu, kebiasaan ini juga mencerminkan keteladanan Nabi Muhammad saw. dalam menjalankan ibadah, sekaligus mengandung nilai kebersamaan dan kepedulian sosial.
Momentum Iduladha tidak hanya berfokus pada ibadah personal, tetapi juga pada semangat berbagi kepada sesama melalui pembagian daging kurban.
Hal ini berbeda dengan Idulfitri, di mana umat Islam justru makan sebelum melaksanakan salat sebagai simbol berakhirnya bulan Ramadan.
Puasa terkait Iduladha sebenarnya berlangsung sebelum hari raya, yaitu pada awal bulan Zulhijah. Salah satu yang paling utama adalah puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, sehari sebelum Iduladha.
Puasa ini memiliki keutamaan besar, khususnya bagi umat Islam yang tidak sedang menjalankan ibadah haji. Namun, setelah memasuki hari Iduladha, seluruh bentuk puasa tidak lagi diperbolehkan.
Berdasarkan penjelasan tersebut, puasa sebelum salat Iduladha bukanlah suatu kewajiban. Bahkan, berpuasa pada saat Iduladha dilarang dalam ajaran Islam.
Anjuranya adalah menahan diri dari makan untuk sementara waktu sebelum salat Id, sebagai bentuk mengikuti sunah Nabi Muhammad saw.
Praktik ini bukanlah puasa, melainkan bagian dari adab dalam menyambut hari raya dan pelaksanaan ibadah kurban.
Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat tidak lagi keliru dalam membedakan antara puasa dan anjuran menahan makan sebelum salat Iduladha.***