
SERAYUNEWS — Pemerintah Kabupaten Banyumas resmi meluncurkan Gerakan Ibu Hamil Sehat Banyumas 2026 (GURIH MASS) sebagai langkah strategis menekan angka kematian ibu dan bayi.
Peluncuran dilakukan langsung oleh Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, di Pendopo Si Panji Purwokerto, Kamis (16/4/2026), didampingi Ketua TP PKK Banyumas Ny. Eny Sadewo.
Program ini menekankan pentingnya kesehatan ibu sejak fase pra-kehamilan, masa kehamilan, hingga pasca-persalinan.
Kepala Dinas Kesehatan dan KB Banyumas, Dani Esti Novia, menjelaskan bahwa GURIH MASS merupakan tindak lanjut rekomendasi Audit Maternal Perinatal Surveilans dan Respon (AMPSR) tahun 2025.
Program ini juga menguatkan inovasi RAOS (Risiko, Aja Ora Skrining) sebagai sistem skrining layak hamil berbasis masyarakat.
“Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momentum penguatan inovasi program RAOS (Risiko, Aja Ora Skrining) sebagai skrining layak hamil berbasis masyarakat yang terintegrasi,” jelas dr. Dani.
Berdasarkan data tahun 2025, Banyumas mencatat 14 kasus kematian ibu atau AKI sebesar 85,64 per 100 ribu kelahiran hidup. Sementara angka kematian bayi mencapai 12,79 per 1.000 kelahiran hidup.
Selain itu, terdapat 5.181 ibu hamil risiko tinggi atau sekitar 30,15 persen, dengan faktor dominan seperti usia di atas 35 tahun, LILA rendah, grandemultipara, anemia, hingga preeklampsia.
“Selain itu, terdapat 5.181 ibu hamil risiko tinggi atau 30,15% dengan faktor dominan usia di atas 35 tahun, ukuran lingkar lengan atas (LILA) kurang, grandemultipara, anemia, dan preeklampsia,” ungkapnya.
Bupati Sadewo Tri Lastiono menegaskan bahwa sebagian besar kasus kematian ibu sebenarnya dapat dicegah dengan deteksi dini dan persiapan matang sebelum kehamilan.
“Yang perlu menjadi perhatian kita bersama, lebih dari 90 persen kasus kematian ibu sebenarnya bisa dicegah. Artinya, masih ada ruang yang sangat besar untuk kita perbaiki, terutama lewat deteksi dini dan persiapan sejak sebelum kehamilan,” tegas Sadewo.
Pemkab Banyumas, lanjutnya, akan memperkuat intervensi dari hulu ke hilir, termasuk melalui skrining bagi wanita usia subur dan calon pengantin.
“Melalui pendekatan ini, kita ingin memastikan bahwa setiap kehamilan benar-benar direncanakan, dipersiapkan, dan dijaga dengan baik,” katanya.
Sadewo juga mengingatkan pentingnya keterlibatan keluarga dalam menjaga kesehatan ibu hamil, termasuk kedisiplinan melakukan pemeriksaan minimal enam kali selama masa kehamilan.
“Karena menjaga kesehatan ibu hamil bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan saja. Tapi tanggung jawab bersama, baik itu suami, keluarga, masyarakat, dan pemerintah,” katanya.